Kamis, 30 Mei 2013

Bagaimana Cara Berpacaran Yang Digariskan Oleh Ajaran Islam?


Bagaimana menurut pendapat Bapak tentang berpacaran yang digariskan oleh ajaran Islam, dan bagaimana seharusnya dalam memilih dan memilah calon suami atau istri? Tolong berikan juga penjelasan juga ada/tidaknya hadits tentang kebolehan memandang atau memegang tangan pada waktu berpacaran. Penjelasan Bapak sangat saya harapkan.

   kurang lebih ini adalah pertanyan dari Agus Jauhara dan Aam Amatillah kepada Bapak Quraish Shihab dalam bukunya "M. Quraish Shihab menjawab 1001 Soal Keislaman" yang garis besarnya mengenai tentang  hal berpacaran.......langsung saja kita simak uraian dari Pak Quraish Shihab...,
                                                                                                                                                                                           

   Sebelum menjawab pertanyaan Anda berdua, terlebih dahulu kita perlu bersepakat tentang apa yang dimaksud dengan pacaran. Kalau merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata pacar diartikan sebagai "teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih".  Jika itu yang Anda maksud, perlu diketahui bahwa Islam tidak menghalangi lahirnya cinta kasih antar lawan jenis karena itu adalah fitrah manusia, bahkan fitrah semua makhluk. Bagi manusia, ia adalah dorongan naluri sejak kecil dan kebutuhan setelah dewasa, membendungnya akan sangat menyulitkan manusia.

   Akan tetapi, melepaskannya tanpa kendali juga dapat mengakibatkan bahaya yang tidak kecil. Oleh karena itu, agama memberi tuntunan. Jika ada yang ingin bercinta kasih dengan lawan jenisnya, hendaklah hal tersebut bertujuan untuk menjalin kehidupan berumah tangga. Tentu, jika masing-masing benar-benar cinta, tidak akan terjadi pelanggaran agama dan moral yang akan merugikan kedua pihak, khususnya wanita. Agama menyerahkan kepada setiap orang untuk memilih siapa yang disenangi dari pasangan selama pasangan itu bukan yang haram dikawini.

   Tentu saja, setiap orang dan setiap masa ada kriteria yang disukai. Agama menggarisbawahi perlunya memperhatikan faktor agama, akhlak, dan kesetaraan dalam status sosial dan pendidikan. Adapu  kekayaan, keturunan, dan kecantikan/ketampanan, juga dapat menjadi bahan pertimbangan, tetapi jangan terlalu diandalkan karena perkawinan dimaksudkan untuk bersifat langgeng, sedangkan faktor-faktor tersebut kemungkinan besar bersifat sementara.

   Ketika seseorang berencana untuk kawin, dia diperkenankan bahkan dianjurkan untuk mengenal secara baik calon pasangannya. Seorang sahabat Nabi saw. menyampaikan kepada Beliau bahwa dia berencana untuk kawin. Nabi saw. bertanya, "Apakah engkau pernah melihatnya?" Dia menjawab, "Belum." Maka,  Nabi saw. memerintahkannya untuk pergi melihat calon pasangannya sambil ber-sabda, "Itu lebih dapat menjadikan perkawinan kalian  menjadi langgeng."

   Dahulu--pada zaman Nabi saw.--mereka, sebelum melangsungkan pernikahan, merasa cukup dengan melihat calon istrinya. Sayyid Sabiq, seorang ulama Mesir kenamaan, menulis dalam bukunya, Fiqh as-Sunnah, bahwa mayoritas ulama hanya membenarkan pria melihat wajah dan telapak tangan wanita yang direncanakan untuk dinikahi, tetapi Dawud azh-Zhahiri membolehkan lebih dari itu, yakni banyak bagian badannya.

   Memang, hadist-hadist tidak menentukan bagian mana yang dapat dilihat. Oleh karena itu, dapat dibenarkan untuk melihat sebatas yang mendukung tujuan yang dikehendaki agama. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Sayyidina 'Umar ra. membuka betis Ummu Kaltsum, putri Sayyidina 'Ali ra., yang akan dinikahinya. Gadis remaja itu marah sambil berkarta, "Kalau engkau bukan Amirulmukminin, niscaya kutusuk matamu" (HR. Abdurrazzaq dan Sa'id bin Manshur).

   Apa yang dibenarkan untuk pria terhadap calon yang akan dipinangnya, dibenarkan juga untuk wanita terhadap calonnya. Kita dapat mengatakan bahwa agama menoleransi si calon suami istri untuk bercakap-cakap atau berjalan bersama selama ditemani oleh keluarga atau orang terhormat. Berjabat tangan dengan lawan jenis pun dapat ditoleransi oleh banyak ulama, tetapi bukan dalam arti bermesra-mesraan, atau pacaran dalam pengertian banyak muda-mudi dewasa ini.

   Agama sangat tegas melarang berdua-duaan dengan calon pasangan walaupun pinangan dan lamaran telah disampaikan. "Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka jangan sekali-kali berduan dengan wanita yang tidak ada bersama dia seorang mahramnya, karena kalau mereka berdua saja, maka setan yang menggenapkan mereka bertiga" (HR. Ahmad). Demikian, Wallahu a'lam.








M. Quraish Shihab - menjawab..1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui



Selasa, 16 April 2013

Untuk Apa Berdo'a...

 

   Meski do'a artinya menyeru dan memohon, di dalamnya sebenarnya tersimpan kekuatan untuk bangkit dan membuat loncatan hidup jauh ke depan. Ketika berdo'a kepada Tuhan, beban seseorang akan menjadi ringan karena telah dibagi dengan Dia Yang Mahaagung, yang di tangan-Nya tergenggam semesta ini. Dengan mengadu dan membuka diri di hadapan-Nya, do'a akan mengalirkan energi Ilahi, sehingga seseorang akan memperoleh kekuatan baru dan berlipat ibarat kita mengisi ulang baterai yang sudah lemah. Ketika seseorang berdo'a dengan sunggug-sungguh, dia tengah melakukan proses pencairan gelombang energi semesta sehingga semesta akan berpihak kepadanya. Ritual semua agama intinya berdo'a. Dalam do'a itu seseorang, baik secara individual maupun kolektif, menyampaikan puji syukur  kepada Tuhan dan menyampaikan permohonan. Coba kita baca kidung suci semua agama, di sana terdapat banyak persamaan yang berisi puji-pujian dan permohonan.

   Dalam Islam, kidung suci dimaksud adalah surah Al-Fatihah, yang kandungannya universal dan isinya mudah diterima semua pemeluk agama. Bahkan, orang yang enggan berafiliasi dengan sebuah institusi agama, tetap saja berdo'a menyeru Tuhan. Hanya saja, ada kecenderungan orang berdo'a di kala duka. Ketika sudah sangat terjepit oleh situasi atau keadaan, baru kita datang kepada Tuhan, berdo'a, mengajukan pertolongan. Setelah problem berlalu, do'a pun berhenti. Padahal,  menurut sabda Rasulullah SAW.,  do'a yang disampaikan baik waktu suka maupun duka, akan lebih dikabulkan. Tanpa disadari, saking semangatnya meminta kita terkesan mengajari atau mendikte Tuhan. Menurut sebuah hadis, Tuhan akan marah pada hamba-Nya yang sombong, tidak pernah berdo'a. Namun, Tuhan juga marah jika melihat hamba-Nya banyak berdo'a, tanpa bekerja. Ora et labora

   Ketika berdo'a, hendaknya tetap tulus, pasrah pada Tuhan, bukan mengajari atau mendikte Tuhan karena Dia Mahabijak dan Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka, di penutup do'a kita diajarkan agar tetap memuji dan menyucikan Allah, menyadari bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu baik bagi Allah. Akhirnya, kita serahkan kepada-Nya dan kita menunggu keputusan-Nya, sembari tetap berusaha. Rasulullah bersabda, "semua permintaan hamba-Nya pasti akan dikabulkan jika seseorang berdo'a dengan sungguh-sungguh."

   Ada empat kemungkinan jawaban Tuhan. Pertama, do'anya dikabulkan sebagaimana yang diminta dalam waktu dekat. Kedua, dikabulkan namun dalam waktu lama setelah seorang hamba berkali-kali datang pada-Nya untuk meminta hal yang sama. Ketiga, do'anya dikabulkan namun diganti dalam bentuk lain yang lebih cocok bagi kepentingan hamba-Nya. salah satunya adalah diganti dengan dihindarkan dari malapetaka. Keempat, segala kebaikan yang diminta akan dikabulkan dengan berlipat ganda, tetapi diberikan nanti di akhirat.

   Do'a adalah hak dan kebutuhan yang melekat sejak kita lahir. Karena Tuhan telah menciptakan manusia, maka manusia merasa memiliki hak untuk mengajukan berbagai permintaan kepada penciptanya. Oleh karena itu, ada orang berdo'a yang isinya penuh pujian dan terima kasih, tetapi ada juga yang bernada protes dan keluh kesah atas nasib hidupnya yang tidak beruntung.

   Karena do'a itu universal dan melekat pada setiap orang, maka ungkapan seperti "Oh, my God" sangat populer di antero dunia, sekalipun pengucapnya mengaku tidak beragama. Saya sendiri memiliki pengalaman unik, yakni ketika pada 1981 saya berjalan-jalan di Moskow ditemani oleh seorang pemandu dan hujan turun spontan; si pemandu ini berseru "Oh, my God...," padahal dia seorang ateis. Rupanya, sepanjang sejarah, kesadaran akan adanya Zat dan Kekuatan Absolut yang mengatasi semesta ini tetap ada, yang kemudian disebut Tuhan, sehingga manusia sulit untuk tidak memikirkan dan mencari-Nya menghaturkan do'a kepada-Nya.

   Namun perlu disadari, kehidupan yang sukses tidak selalu dikarenakan kekuatan do'a, melainkan hasil kerja keras dan cerdas dengan mengikuti hukum alam, yang sesungguhnya hukum alam itu pun merupakan ciptaan Tuhan. Maka, Tuhan selalu memerintahkan, "Bekerjalah kamu dengan sungguh-sungguh lalu serahkan semuanya itu kepada-Ku".

   Fenomena mutakhir yang sering kita lihat, ada orang yang masuk penjara karena korupsi dan kemudian berdalih bahwa ini semua cobaan Tuhan. Akibatnya, ketika di dalam penjara dia sangat rajin berdo'a dan bersembahyang. Sikap demikian bisa dipahami, sebab dengan mendekatkan diri pada Tuhan beban di penjara akan berkurang. Tetapi, menurut nalar sehat, apa kepentingan Tuhan memasukkan seseorang ke penjara jika dia telah jelas seorang koruptor? bahwa dia kemudian bertobat itu bagus dan logis. Tetapi, rasanya tidak tepat bahwa berbuat korupsi dan kemudian masuk tahanan merupakan takdir dan cobaan Ilahi. memang, ketika orang ditimpa musibah, ketika orang lain tidak sanggup membantu, maka Tuhan merupakan sandaran terakhir, sehingga muncul ungkapan yang mengalir dari lisannya: "Demi Allah," "Allah yang Mahatahu," "ini semua fitnah. Fitnah. Saya yakin Allah yang Mahatahu dan Mahaadil." "Nanti Tuhan yang membalasnya." "Tuhan yang akan mengungkapkan kebenaran akhir," dan seterusnya. Ini bisa saja merupakan ekspresi do'a atau menghibur diri sambil menutupi kebohongan. Kita melihat dan mendengar para koruptor yang menganggap pengadilan terhadap mereka sebagai cobaan dari Tuhan.



   Padahal, sebelum menjabat, para koruptor tersebut berdo'a sepenuh hati agar diberi jabatan, berusaha sekuat-kuatnya, jika perlu  dengan menyogok atau melakukan kolusi dan menjual integritas mereka demi mencapai kedudukan atau jabatan. Setelah menjabat, mereka sibuk mengumpulkan kekayaan dan mengekalkan kekuasaan, melakukan korupsi dan melupakan Tuhan. Ketika korupsi mereka terungkap dan harus menghadapi sidang pengadilan, mereka berucap bahwa Tuhan tengah memberi ujian dan mereka tengah mendapat cobaan dari-Nya. Ucapan mereka sesungguhnya merupakan pelemparan tanggung jawab dan kesalahan kepada Tuhan yang mengabulkan do'anya.

   Pernyataan para politisi bahwa dia dizalimi, sementara dirinya merupakan bagian dari rezim yang membuat susah Rakyat, juga merupakan pelemparan tanggung jawab dan kesalahan pada Tuhan. Jika kita percaya dan pasrah pada kemampuan Tuhan saat kita berdo'a, kita juga selayaknya percaya dan pasrah pada nasib atau hal-hal jelek yang timbul dari dikabulkannya do'a kita itu.

   Tuhan Mahasempurna dan tidak mungkin melakukan kesalahan, sedangkan manusia adalah makhluk lemah dan serakah yang sangat mungkin melakukan kesalahan. Kita harus berhati-hati dalam berdo'a karena do'a kita mungkin dikabulkan padahal kita belum tentu siap menerima konsekuensinya.





Komaruddin Hidayat - Agama Punya Seribu Nyawa